Sungguh!! penderitaan, kecemasan dan penyesalan yang aku rasakan waktu itu telah membuatku berikrar untuk menceritakannya padamu kawan…
Malam itu, tepatnya selasa malam aku diantar oleh wahid teman seatap kos sejuta makhluk ke stasiun Kiaracondong. Dia juga yang telah menceritakan tentang suasana kereta ekonomi yang cukup menggiurkan. Terang saja, hanya dengan dua puluh delapan ribu kita dapat menempuh perjalanan Bandung-Solo, ditambah mendapat tempat duduk pula, benar-benar murah dan menarik…
Sebenarnya ketika membeli tiket siangnya, ada perasaan tidak enak, karena didepan loket karcis ada tulisan “Untuk tanggal 29 Desember - 5 Januari tempat duduk bebas”. Ini artinya siapa cepat dia dapat duduk, yang telat silahkan berdiri, lesehan atau pulang saja sana!
Tut tut tut… Gredeeeeeekkkkk dreeekkk dreeekkk dreekkk….. Kereta ekonomi itu akhirnya datang…
Penderitaanku pun dimulai…
Kuperhatikan baik-baik dari jendela kereta itu, tidak ada satupun tempat duduk yang kosong, semuanya telah diisi oleh penumpang semenjak dari stasiun Padalarang, stasiun pertama kereta itu diberangkatkan. Kemudian akupun masuk sambil berdoa dan berharap mudah-mudahan penglihatanku tadi salah, tapi ternyata tidak, tak ada satupun kursi yang kosong. Lalu aku mencari penjual koran bekas, karena sudah dipastikan malam ini nasibku adalah lesehan. Setelah mencari-cari tempat kesana-kemari, kuputuskan untuk lesehan di depan pintu masuk gerbong kereta, karena sisi satunya sudah ditempatin penumpang lain, dengan sangat terpaksa aku duduk tepat didepan “TOILET”. Benar kawan, kalau engkau tak tahu “TOILET” itu apa, kupermudah saja dengan bahasa kita “WC”.
Sekitar jam sembilan malam kereta mulai diberangkatkan, akupun mencari posisi tubuh yang pas untuk bersandar di salah satu sisi toilet itu. Tak perlu aku ceritakan bagaimana aroma toilet itu kawan, tapi untungnya setelah pintu toilet itu ditutup, aromanya sedikit pudar mungkin karena sudah bercampur dengan aroma keringat penumpang kereta itu.
Semenjak kereta berangkat, aku mengutuki diri sendiri, menyesali diri yang terlalu banyak dosa sehingga tak tepat mengambil keputusan. Padahal uangku saat itu cukup kalau untuk membeli tiket kereta bisnis, malang nian nasibku ini. Beberapa waktu kemudian, mataku sudah sulit untuk diajak kompromi, aku pun tak kuasa menahan kantuk ini. Dengan kondisi yang berdesak-desakkan, udara yang pengap, suara yang bising, disertai lalu lalang orang-orang, mataku pun terpejam.
Nguiiiing… duk duk duk… kaget bukan maen, aku hampir jatuh karena keretanya bergoyang kesana kemari… Kuikuti kembali keinginan mataku, tapi beberapa saat kemudian, dok dok dok! duar duar duar! Buka pintunya! Buka pintunya! Buka pintunya! Ternyata kereta sudah berhenti di salah satu stasiun. Kejadian ini berulang-ulang pada stasiun-stasiun berikutnya… Sungguh memilukan….
Allah memang sayang padaku kawan, dalam kesengsaraan itu aku mendapat beberapa hiburan, mulai dari kenalanku orang Wonogiri yang konyol habis sehingga membuatku sering sumringah sampai ada beberapa orang yang nekat masuk membawa barang bawaan berkarung-karung yang akhirmnya karung dan pemiliknya masuk semua ke dalam toilet yang membuat pernafasan menjadi asma, paru-paru bolong dan kepala ngeliyeng, benar kawan, semuanya masuk ke dalam WC… kik kik kik kik…. Membuatku tertawa membayangkan penderitaan mereka…. ha ha ha ha. . .
Lebih tengah malam, klimaks penderitaanku datang juga, seperti biasa ketika kereta datang di stasiun-stasiun, suara gedoran pintu dan teriakan orang ingin masuk kembali terjadi. Tapi kali ini berbeda, tepatnya di stasiun kota Tasik gedoran ini teramat keras, sekeras keinginan dan kemarahan yang telah meluap-luap karena tak satupun pintu gerbong lain dibuka. Penjaga pintu gerbong sampingku, orang Wonogiri yang secara tidak sengaja menobatkan dirinya untuk menerima jabatan itu akhirnya membuka pintu. Sebenarnya kondisi di dalam sudah sangat sesak, jikalau ditambah penumpang lagi, dapat dipastikan tak ada satu orang pun yang dapat duduk, tak terkecuali diriku.
Satu demi satu penumpang itu masuk ke dalam gerbong tapi kuota yang dapat ditampung hanya empat orang saja, dua anak kecil, seorang ibu dan neneknya. Akhirnya tak ada satu pantat orang pun yang dapat menikmati kerasnya lantai kereta api, semuanya berdiri! Berdiri! Berdiri! sampai stasiun-stasiun berikutnya.
Dalam perjalanan berikutnya, disaat semua orang kelelahan, letih dan tubuh menjadi lemas, kereta pun berhenti. Kemudian datanglah seorang ibu-ibu yang berjalan tergopoh-gopoh bersama suaminya, mereka berdua membuat kami semua kaget. Dari raut wajah ibu itu, tersirat penderitaan yang sangat, terlihat seperti orang yang sedang menahan beban yang sangat berat. Ia memaksa untuk masuk ke dalam WC yang telah dipenuhi oleh berbagai macam karung dan manusia. Setelah ditanya, ternyata ibu itu ingin buang air kecil. Sontak orang yang berada di dalam WC melarang ibu itu untuk masuk, karena jika sampai buang air di dalam, akibatnya akan sangat fatal. Barang-barang dagangan itu akan terkena air kencing dan aromanya pun akan sangat menyengat karena tak ada setetes air yang mengalir dari lubang keran WC itu. Setelah melalui perdebatan yang panjang, akhirnya ibu itu dibawa keluar dan berhasil melepaskan penderitaannya. Walaupun dalam kondisi normal terkesan sangat menjijikan, tapi apa boleh buat. Begitulah kawan, kalau orang sudah terjepit, terkadang rasa malu itu hilang.
Perjalanan berikutnya, kejadian orang yang kebelet kembali terulang, pelakunya masih sama seorang perempuan tepatnya ibu-ibu. Sepertinya harus dibuat peraturan tegas yang berbunyi: “Ibu-ibu yang naik kereta ekonomi harus memakai popok”. Dikarenakan kereta tidak dalam keadaan berhenti, maka kami yang berada disana menyuruh ibu itu untuk pergi ke WC gerbong sebelahnya. Beberapa saat kemudian ibu itu kembali dengan raut wajah yang menyenangkan, rupanya penderitaannya telah hilang.
Setelah beberapa jam aku berdiri, akhirnya Allah memberikanku secuil kasih sayangNya. Tepat di stasiun Kroya, banyak penumpang yang turun dan ada salah seorang yang turun memberitahuku kalau didalam ada beberapa kursi yang kosong. Akupun tak membuang kesempatan, kucari-cari kursi yang kosong. Kulihat ada satu kursi kosong, kutanyakan pada orang yang duduk disebelahnya, dengan raut wajah yang garang dia berkata : “Ada orangnya !!!”, malangnya nasibku. Tapi aku tak putus asa, kucari-cari lagi kursi yang kosong, dan kulihat tepat dibelakangku ada kursi yang kosong. Setelah kutanyakan pada ibu yang duduk disebelahnya, Alhamdulillah akupun bisa duduk disana.
Setelah mendapat tempat duduk, aku melihat jam, ternyata waktu shubuh telah datang. Dengan berayamum, aku memulai sholatku sembari duduk. Selang beberapa menit, pelupuk mataku tak kuasa untuk berkedip, akupun tertidur pulas, ya benar pulas, sampai tak tahu sudah berapa liter air liurku keluar dari guanya… hehehehe…
Kawan, begitulah kisah orang yang naik kereta ekonomi. Sedemikian perasaanku waktu itu sampai-sampai memaksaku untuk menuliskannya agar perasaanku plooooong….. Kalau engkau mempunyai uang lebih kawan, aku sarankan untuk naik kereta bisnis atau bis saja, dan kalaupun engkau terpaksa naik kereta ekonomi, pastikan tidak dalam suasana liburan dan hari libur. Jika engkau melanggar ini kawan, bersiaplah untuk menderita, ha ha ha ha. . .